Rabu, 25 April 2012

Buta Huruf, Jutaan Warga India Ditipu Merek Palsu

NEW DELHI. Jutaan warga India yang buta huruf, menjadi nafas kehidupan bagi berbagai produsen peralatan konsumer nakal yang menawarkan merek palsu. Pembelian produk abal-abal ini menggerus keuntungan produsen besar, yang telah lebih dulu membangun merek. Unilever dan perusahaan sejenisnya tidak tinggal diam. Mereka mengeluarkan banyak biaya untuk meredam peredaran merek palsu.
Sunita Kumar, seorang istri buruh pabrik di kampung Hazratpur, India memasukkan bedak dan krim wajahnya ke kotak make-up. Ia menggunakan peralatan kecantikan itu jika berkunjung ke acara-acara festival atau pernikahan kerabat.
Namun, Sunita tidak tahu, jika produk yang ia gunakan itu palsu. Dia yang buta huruf, tidak bisa membaca label tube krim wajahnya bertuliskan Fairy Love, plesetan merek Fair & Lovely buatan Unilever. Dia mengenal krim tersebut melalui iklan di televisi.
Hazratpur merupakan salah satu desa miskin di India. Di desa itu, berbagai peritel informal berjualan di bawah pohon dan akses produk bermerek palsu begitu besar karena warga yang buta huruf tidak bisa membedakannya dengan yang asli.
Fair & Lovely hanya salah satu produk yang didompleng merek abal-abal. Ada juga produk Voroline yang merupakan plesetan Vazeline, yang laris dibeli jutaan konsumen buta huruf India.
Penguasa jaringan produk kecantikan seperti Unilever, Proctec & Gamble Co (P&G) maupun kompetitor lokal bernama Emami Ltd, menjadi korban nyata buta huruf warga India.
Sekitar 69% dari total penduduk India yang berjumlah 1,2 miliar tinggal di pedalaman. Meski tinggal di pelosok, mereka merupakan pelanggan setia produk-produk bermerek. Ini menjadi celah para produsen nakal menawarkan merek palsu.
Menurut Saroj Kumar Mohanta, konsultan MART di New Delhi, pembelian produk palsu menyebabkan kerugian besar pada perusahaan besar yang menghabiskan dana besar untuk membangun merek. Kamar Dagang dan Industri India mengestimasi, antara 10% - 30% produk kosmetik, peralatan kamar mandi, dan makanan kemasan di India adalah merek palsu. Meski demikian, berdasarkan survei Nielsen Co, permintaan produk konsumer India tetap bisa naik dari sebelumnya sekitar US$ 9 miliar pada tahun 2010 menjadi US$ 100 miliar pada 2025 mendatang, karena populasi yang besar.
Dampak ke perusahaan
Hindustan Unilever mengakui, peredaran produk imitasi berdampak pada pendapatan. Produk palsu diperkirakan bernilai lebih dari INR 560 juta pada 2011, apabila mempertimbangkan peningkatan konsumsi produk bermerek.
Namun, perusahaan optimistis bisa meningkatkan laba 12% menjadi INR 25,8 miliar pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2012.
Demi menekan kerugian, Unilever India mempekerjakan wanita yang berdomisili di daerah rural sejak tahun 2000 sebagai duta merek. Upaya itu menghabiskan dana iklan dan promosi sebesar INR 28 miliar setahun terakhir.
Hasilnya mulai terlihat. Keluarga di daerah Hazratpur telah menggunakan detergen Surf buatan Unilever. "Kini konsumen telah masuk pada taraf yang melihat penghematan tidak lagi sebagai kebaikan," ungkap Nitin Paranjpe, Chief Executive Officer (CEO) Hindustan Unilever.
Berdasarkan Euromonitor International, Unilever memegang pangsa pasar India 33%, menyusul Colgate-Palmolive Co (6,8%), P&G (5,4%), Dabur India Ltd (4,9%), dan Emami Ltd (1,5%). Persentase mereka bisa lebih besar jika merek palsu tak merebak.
Menurut Mohanta, pesatnya peredaran merek palsu didukung banyaknya perusahaan manufaktur tak berizin.
Pimpinan FICCI’s Committee on Anti-Smuggling and Counterfeiting, Anil Rajput menambahkan, toko kelontong juga dengan senang hati menjual produk merek palsu yang memiliki banyak peminat. Ini karena harganya lebih murah dibandingkan produk asli.
Emami juga berinovasi pada pengemasan produk. Ia berupaya mengedukasi para peritel agar mengidentifikasi produk-produk palsu.
 

Jumat, 13 April 2012

Unilever: Profits Up 23% on Rising Domestic Consumption

Consumer goods giant PT Unilever Indonesia Tbk is reporting a 23 percent increase in net profits for 2011, due to growing exports and increased domestic consumption.

According to a financial report submitted to the Indonesia Stock Exchange (IDX), Unilever’s net profits were Rp 4.16 trillion (US$453 million) in 2011, up from Rp 3.38 trillion a year earlier.

The increase was supported by a 19 percent jump in sales to Rp 23.47 trillion in 2011, up from Rp 19.69 trillion in 2010. Meanwhile, domestic sales contributed 95 percent, or Rp 22.43 trillion, a 15 percent increase from Rp 18.86 trillion sales in 2010.

The company also reported a 25 percent increase in exports to Rp 1.04 trillion in 2011, up from
Rp 825.75 billion a year earlier.

Unilever, whose products range from food, home care brands, personal care brands, nutrition, health, hygiene and beauty, suffered from a growing cost of goods sold of Rp 11.46 trillion, leaving its gross profits at Rp 12 trillion.

The company spent about Rp 5.24 trillion on marketing and sales expenses and Rp 1.31 trillion on general and administration expenses.

Unilever also reported a gain in its disposal of intangible assets to Rp 112.76 billion and interest income of Rp 33.19 billion, which helped the company to post Rp 5.57 trillion in profits before tax.

Unilever’s total assets stood at Rp 10.48 trillion as of Dec. 31, with liabilities of Rp 6.8 trillion and 4.05 trillion in equities.

The company, which is 84.99 percent owned by Unilever Indonesia Holding B.V and about 15 percent owned by the public, reported a balance of Rp 3.68 trillion as of Dec. 31.

Following the announcement, shares in Unilever (UNVR) closed at Rp 20,000 a piece on Friday, up 2.3 percent from Rp 19,550 a day earlier.

The head of research at MNC Securities, Edwin Sebayang, said that Unilever’s performance was in line with projections from early last year.

“This year the growth won’t be too far different,” Edwin said.

According to projections, Unilever will likely report Rp 26.56 trillion in sales this year, with estimated gross profits of Rp 13.74 trillion and profits before tax of Rp 6.21 trillion respectively.

Unilever is projected to book Rp 4.68 in net profits this year.

“That is a conservative projection,” Edwin said, adding that shares in Unilever would likely touch
Rp 24,100 a piece this year.

However, he added, the projection might be lowered if the government increased fuel prices.

“An increase will boost transportation expenses. Moreover, Unilever operates in the consumer goods business, which will be affected by public’s purchasing power,” he said.

“Therefore, the company must introduce new products or improve its marketing strategy,” he added.
 

Kamis, 12 April 2012

Askap: INDF, UNVR dan UNTR Bisa Diperhatikan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak sideways setelah di sesi pertama terus melakukan reli dan masih berakhir di zona hijau.
Analis Askap Futures, Kiswoyo Adi Joe mengamati bahwa di sesi pertama tadi, tidak terjadi break high ataupun break down pada indeks.
"Semua sektor rata menguat di sesi pertama tadi dan saham blue chips maupun second liner juga sama-sama positif pergerakannya," kata Kiswoyo, Kamis (12/4).
Kiswoyo memperhatikan sepertinya, Indeks akan bergerak sideways di sisa hari ini dan mengekor indeks regional. IHSG juga masih menantikan data industrial production China kuartal pertama yang rilis besok.
"IHSG akan bergerak di putaran 4.120 dan 4.150 sebagai resistance terdekat,” lanjutnya.
Di sesi II perdagangan hari ini, dia merekomendasikan trading untuk saham-saham INDF, UNVR dan UNTR.

Senin, 09 April 2012

Investor Gemar Koleksi Saham ASII, UNVR, & BBNI

Meski sempat dibuka negatif pada transaksi pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup dengan kenaikan 20,32 poin di sesi I. Artinya, posisi indeks saat ini berada di level 3.932,72.

Aksi beli saham-saham berkapitalisasi besar menjadi salah satu faktor pendorong indeks. Tiga di antaranya yakni:

- PT Astra Internasional Indonesia Tbk (ASII)

Saham ASII tercatat naik 2,53% menjadi Rp 73.000 di sesi I. Sejumlah broker yang paling banyak memburu saham ini adalah UBS Securities senilai Rp 89,71 miliar, Deutsche Securities senilai Rp 23,63 miliar, dan Kim Eng Securities senilai Rp 12,91 miliar.

- PT Unilever Tbk (UNVR)

Saham UNVR tercatat naik 1,55% menjadi Rp 19.600 di sesi I. Sejumlah broker yang paling banyak memburu saham ini adalah Bahana Securities senilai Rp 1,67 miliar, Kim Eng Securities senilai Rp 1,31 miliar, dan Credit Suisse Securities senilai Rp 341,45 juta.

- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)

Saham BBNI tercatat naik 2,17% menjadi Rp 3.525 di sesi I. Sejumlah broker yang paling banyak memburu saham ini adalah JPMorgan Securities senilai Rp 10,99 miliar, Deutsche Securities senilai Rp 7,58 miliar, dan Mandiri Sekuritas senilai Rp 7,11 miliar. 

Kamis, 05 April 2012

Kinerja Bertumbuh

Meski persaingan antara produsen consumer goods makin sengit, PT Unilever Indonesia Tbk tidak kesulitan mencetak pertumbuhan kinerja keuangannya. Tahun 2011, pendapatan emiten berkode saham UNVR ini, tumbuh 19,14% year on year (yoy) menjadi Rp 23,46 triliun. Sementara, laba bersihnya meningkat 23,07% menjadi Rp 4,16 triliun.
UNVR tetap mengandalkan produk perawatan rumah tangga dan tubuh alias household and personal care (HPC), serta makanan dan minuman atawa food and beverage (F&B). Penjualan di dalam negeri masih mendominasi pendapatannya dengan kontribusi Rp 22,42 triliun, sementara sisanya dari ekspor.
Mitchel Jauwanto, Analis Ciptadana Securities, menghitung, tahun ini divisi HPC dan F&B akan terus bertumbuh. Hitungan Mitchel, pendapatan segmen HPC akan meningkat sekitar 14,8% per tahun, menjadi sekitar Rp 19,44 triliun di tahun ini. "Sementara divisi F&B juga tetap akan bertumbuh sekitar 22,89% per tahun hingga 2013," ujar dia.
Kinerja bertumbuh
Optimisme pertumbuhan di kedua divisi ini berdasarkan ekspektasi pendapatan masyarakat yang terus tumbuh. Asumsi itu sesuai dengan proyeksi perekonomian Indonesia yang sehat. Di saat kondisi makro baik, konsumsi bakal meningkat.
Meski, Unilever tetap dibayang-bayangi kompetisi yang ketat dari produk-produk asing yang membanjiri pasar consumer goods di dalam negeri. Untuk segmen perawatan tubuh misalnya, Unilever memiliki saingan kuat seperti produk dari L\'oreal dan P&G.
Sementara dari sisi persaingan harga jual produk, Unilever memiliki pesaing utama dari kelompok usaha Wings. Namun, analis melihat, dengan inovasi produk dan strategi pemasaran yang baik, Unilever masih bisa mencetak pertumbuhan dan menjadi pemimpin di segmen produk itu. Selama ini, Unilever juga tetap mampu menjaga margin di kisaran 50,16% per tahun.
Untuk menghadapi para pesaingnya, UNVR mengalokasikan dana sebesar US$ 600 juta untuk kurun waktu 2011 hingga 2014. Anggaran itu dialokasikan untuk kebutuhan operasional dan pengembangan bisnis UNVR.
Ivan Chamdani, Analis Trimegah Securities, mengatakan, sebagai perusahaan yang sudah mature, secara historis Unilever tidak terlalu terpengaruh terhadap kemerosotan ekonomi. "Ini berkat produknya sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat," ujar Ivan dalam risetnya.
Tahun ini Mitchel memprediksi pendapatan UNVR sebesar Rp 27,10 triliun, naik 15,51% dari pendapatan di tahun 2011. Sementara, proyeksi laba bersih tahun ini sebesar Rp 4,28 triliun.
Namun, harga UNVR pada penutupan kemarin (3/4), yaitu Rp 20.350 per saham, menurut Mitchel sudah terlampau premium. Ini lantaran Unilever sudah terbukti memiliki kinerja yang relatif terus bertumbuh.
Berdasarkan valuasi sahamnya, menurut hitungan Mitchel, price earning ratio (PER) UNVR di tahun ini sebesar 35,08 kali. Ini di atas PER sektor consumer goods yang sebesar 18,45 kali.
Mitchel merekomendasikan hold UNVR dengan target harga sebesar Rp 18.150 per saham. Harry Su, Analis Bahana Securities juga merekomendasikan hold dengan target harga Rp 18.250 per saham.
Sementara, A. Indrajati, Analis AAA Sekuritas merekomendasikan buy untuk UNVR dengan target harga Rp 21.150 per saham.

Senin, 02 April 2012

Purpose & principles PT. Unilever Tbk. (UNVR)

Always working with integrity

Conducting our operations with integrity and with respect for the many people, organisations and environments our business touches has always been at the heart of our corporate responsibility.

Positive impact 

We aim to make a positive impact in many ways: through our brands, our commercial operations and relationships, through voluntary contributions, and through the various other ways in which we engage with society.

Continuous commitment

We're also committed to continuously improving the way we manage our environmental impacts and are working towards our longer-term goal of developing a sustainable business.

Setting out our aspirations 

Our corporate purpose sets out our aspirations in running our business. It's underpinned by our code of business Principles which describes the operational standards that everyone at Unilever follows, wherever they are in the world. The code also supports our approach to governance and corporate responsibility.

Working with others

We want to work with suppliers who have values similar to our own and work to the same standards we do. Our Business partner code, aligned to our own Code of business principles, comprises ten principles covering business integrity and responsibilities relating to employees, consumers and the environment.

Source :  http://www.unilever.com/aboutus/purposeandprinciples/