Meski persaingan antara produsen consumer goods makin sengit, PT
Unilever Indonesia Tbk tidak kesulitan mencetak pertumbuhan kinerja
keuangannya. Tahun 2011, pendapatan emiten berkode saham UNVR
ini, tumbuh 19,14% year on year (yoy) menjadi Rp 23,46 triliun.
Sementara, laba bersihnya meningkat 23,07% menjadi Rp 4,16 triliun.
UNVR tetap mengandalkan produk perawatan rumah tangga dan tubuh alias
household and personal care (HPC), serta makanan dan minuman atawa food
and beverage (F&B). Penjualan di dalam negeri masih mendominasi
pendapatannya dengan kontribusi Rp 22,42 triliun, sementara sisanya dari
ekspor.
Mitchel Jauwanto, Analis Ciptadana Securities, menghitung, tahun ini
divisi HPC dan F&B akan terus bertumbuh. Hitungan Mitchel,
pendapatan segmen HPC akan meningkat sekitar 14,8% per tahun, menjadi
sekitar Rp 19,44 triliun di tahun ini. "Sementara divisi F&B juga
tetap akan bertumbuh sekitar 22,89% per tahun hingga 2013," ujar dia.
Kinerja bertumbuh
Optimisme pertumbuhan di kedua divisi ini berdasarkan ekspektasi
pendapatan masyarakat yang terus tumbuh. Asumsi itu sesuai dengan
proyeksi perekonomian Indonesia yang sehat. Di saat kondisi makro baik,
konsumsi bakal meningkat.
Meski, Unilever tetap dibayang-bayangi kompetisi yang ketat dari
produk-produk asing yang membanjiri pasar consumer goods di dalam
negeri. Untuk segmen perawatan tubuh misalnya, Unilever memiliki saingan
kuat seperti produk dari L\'oreal dan P&G.
Sementara dari sisi persaingan harga jual produk, Unilever memiliki
pesaing utama dari kelompok usaha Wings. Namun, analis melihat, dengan
inovasi produk dan strategi pemasaran yang baik, Unilever masih bisa
mencetak pertumbuhan dan menjadi pemimpin di segmen produk itu. Selama
ini, Unilever juga tetap mampu menjaga margin di kisaran 50,16% per
tahun.
Untuk menghadapi para pesaingnya, UNVR mengalokasikan dana sebesar
US$ 600 juta untuk kurun waktu 2011 hingga 2014. Anggaran itu
dialokasikan untuk kebutuhan operasional dan pengembangan bisnis UNVR.
Ivan Chamdani, Analis Trimegah Securities, mengatakan, sebagai
perusahaan yang sudah mature, secara historis Unilever tidak terlalu
terpengaruh terhadap kemerosotan ekonomi. "Ini berkat produknya sudah
menjadi kebutuhan dasar masyarakat," ujar Ivan dalam risetnya.
Tahun ini Mitchel memprediksi pendapatan UNVR sebesar Rp 27,10
triliun, naik 15,51% dari pendapatan di tahun 2011. Sementara, proyeksi
laba bersih tahun ini sebesar Rp 4,28 triliun.
Namun, harga UNVR pada penutupan kemarin (3/4), yaitu Rp 20.350 per
saham, menurut Mitchel sudah terlampau premium. Ini lantaran Unilever
sudah terbukti memiliki kinerja yang relatif terus bertumbuh.
Berdasarkan valuasi sahamnya, menurut hitungan Mitchel, price earning
ratio (PER) UNVR di tahun ini sebesar 35,08 kali. Ini di atas PER
sektor consumer goods yang sebesar 18,45 kali.
Mitchel merekomendasikan hold UNVR dengan target harga sebesar Rp
18.150 per saham. Harry Su, Analis Bahana Securities juga
merekomendasikan hold dengan target harga Rp 18.250 per saham.
Sementara, A. Indrajati, Analis AAA Sekuritas merekomendasikan buy untuk UNVR dengan target harga Rp 21.150 per saham.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar